mivo.tv

Script by: http://www.newoes.com - Rofingi.com

Kamis, 15 Maret 2012

TEORI PEMBELAJARAN


A. BEHAVIORISME
Aliran Behaviorisme berpangkal dari pandangan tentang hakikat manusia yang diutarakan oleh John Locke. Menurutnya, manusia itu merupakan organisme yang pasif. Dengan teori tabularasanya, dia menganggap bahwa manusia itu seperti kertas putih, hendak ditulis apa kertas itu sangat tergantung pada orang yang menulisnya.
Menurut teori behaviorisme ini, belajar pada hakikatnya adalah pembentukan asosiasi antara kesan yang ditangkap pancaindra dengan kecendrungan untuk bertindak atau hubungan antara stimulus dan respon (S-R) yang pada akhirnya belajar merupakan upaya untuk membentuk hubungan stimulus dan respon sebanyak-banyaknya. Menurut teori ini, stimulus adalah penyebab belajar yang merupakan agen-agen lingkungan yang bertindak terhadap suatu organisme yang menyebabkan organisme itu memberikan respon atau meningkatkan probabilita terjadinya respon tertentu sedangkan respon-respon yaitu akibat-akibat atau efek-efek yang merupakan reaksi-reaksi fisik suatu organisme terhadap stimulus eksternal dan stimulus internal.
Berikut akan diuraikan pandangan-pandangan behaviorisme tentang belajar dan pembelajaran:
1. Pandangan Behaviorisme tentang belajar, yaitu
a. Behaviorisme memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti dan tetap tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi.
b. Belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan kepada orang yang belajar.
c. Anak didik diharapkan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang di ajarkan. Artinya apa yang dipahami oleh pendidik itulah yang harus dipahami oleh anak didik.
2. Pandangan Behaviorisme tentang tujuan pembelajaran, yaitu
Tujuan pembelajaran ditentukan pada penambahan pengetahuan.
3. Pandangan Behaviorisme tentang strategi pembelajaran, yaitu
a. Penyajian isi menekankan pada keterampilan yang terisolasi dan terakumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian ke keseluruhan.
b. Pembelajarasn mengikuti urutan kurikulum secara ketat.
c. Aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks dan penekanan pada keterampilan.
d. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil.
4. Pandangan Behavioristik tentang evaluasi, yaitu
a. Evaluasi menekankan pada respon pasif. Keterampilan secara terpisah dan biasanya menggunakan “ paper dan pencil test”
b. Evaluasi yang menuntut jawaban benar menunjukkan bahwa anak didik telah menyelesaikan tugas belajar.
c. Evaluasi belajar dipandang sebagai bagian terpisah dari kegiatan pembelajaran dan biasanya dilakukan setelah kegiatan belajar dengan penekanan pada evaluasi individu.
Masih menurut teori ini, dalam memecahkan suatu masalah hendaklah dilakukan dengan cara trial and eror, belajar itu dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, pembentukan-pembentukan kebiasaan sangat dipentingkan dan belajar itu sangat mementingkan pengaruh lingkungan.
Teori-Teori belajar yang termasuk ke dalam kelompok behaviorisme yaitu:
  1. Koneksionisme, dengan tokohnya Thorndike.
  2. Classical conditioning, dengan tokohnya Pavlop.
  3. Operant Conditioning, yang dikembangkan oleh Skinner.
  4. Systematic behavior, yang dikembangkan oleh Hull.
  5. Contigous conditioning, yang dikembangkan oleh Guthrie.
B. KOGNITIFISME
Aliran kognitif berawal dari pandangan tentang hakikat manusia yang diutarakan oleh Leibnitz yang menyatakan bahwa manusia adalah organisme aktif. Manusia merupakan sumber daripada semua kegiatan. Pada hakikatnya manusia bebas untuk berbuat, bebas untuk membuat suatu pilihan dalam setiap situasi. Titik pusat kebebasan ini adalah kesadaran diri. Menurut teori ini, belajar merupakan suatu proses perolehan atau perubahan insait-insait (insight), pandangan-pandangan (outlooks), harapan-harapan, atau pola-pola berpikir. Dalam mempermasalahkan belajar bagi siswa, para penganut teori ini lebih menyukai istilah-istilah orang dari pada organisme, lingkungan psikologi daripada lingkungan fisik atau lingkungan biologi dan interaksi daripada aksi atau reaksi. Mereka berpendapat bahwa konsep-konsep orang, lingkungan psikologi dan interaksi lebih memudahkan para guru dalam poses belajar. Konsep-konsep ini memungkinkan guru untuk melihat seseorang, lingkungannya dan interaksi dengan lingkungannya dan semua itu terjadi pada waktu yang sama.

Teori-teori yang termasuk ke dalam kelompok kognitif di antaranya:
a. Teori Gestalt
Teori Gestalt dikembangkan oleh Koffka, Kohler, dan wertheimer. Menurut teori ini, belajar adalah proses mengembangkan insightInsight adalah pemahaman terhadap hubungan antarbagian di dalam suatu situasi permasalahan dan insight tersebut merupakan inti dari pembentukan tingkah laku.
Untuk memahami bagaimana sebenarnya insight itu terjadi, kita dapat mehami percobaan yang dilakukan oleh Kohler dan percobaannya sebagai berikut:
Kohler menyimpan simpanse pada sebuah jeruji. Di dalam jeruji itu disediakan sebuah tongkat dan di luar jeruji disimpan sebuah pisang. Setelah dibiarkan beberapa lama, ternyata simpanse berhasil meraih pisang yang ada di luar jeruji dengan tongkat yang telah disediakan sebelumnya.
Dari percobaan tersebut, simpanse mampu mengembangkan insight, artinya ia dapat menangkap hubungan antara jeruji, tongkat, dan pisang. Ia paham bahwa pisang adalah makanan, ia paham juga bahwa tongkat dapat digunakan untuk meraih pisang yang berada di luar jeruji. Inilah hakikatnya belajar. Belajar terjadi karena kemampuan menangkap makna dan keterhubungan antara komponen yang ada di lingkungannya.
Insight yang merupakan inti dari belajar menurut teori Gestalt, memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Kemampuan insight seseorang tergantung pada kemampuan dasar orang tersebut, sedangkan kemampuan dasar itu tergantung pada usia dan posisi yang bersangkutan dalam kelompoknya.
2. insight dipengaruhi atau tergantung kepada pengalaman masa lalu yang relevan
3.insight tergantung kepada pengaturan dan penyediaan lingkungannya.
4. Pengertian merupakan inti dari insight. Melalui pengertian individu akan dapat memecahkan persoalan. Pengertian itulah yang bisa menjadi kendaraan dalam memecahkan persoalan lain pada situasi yang berlainan.
5. Apabila insight telah diperoleh, maka dapat digunakan untuk menghadapi persoalan dalam situasi lain. Di sini terdapat semacam transfer belajar, manun yang ditransfer bukanlah materi yang dipelajari, tetapi relasi-relasi dan generalisasi yang diperoleh melaluiinsight.


b. Teori Medan
Teori medan dikembangkan olek Kurt Lewin. Sama seperti teori Gestalt, Teori medan menganggap bahwa belajar adalah pemecahan masalah. Beberapa hal yang berkaitan dengan proses pemecahan masalah menurut Lewin dalam belajar adalah:
a. Belajar adalah perubahan struktur kognitif, dimana setiap orang akan dapat memecahkan masalah jika ia bisa mengubah struktur kognitifnya.
b. Pentingnya motivasi. Motivasi adalah faktor yang dapat mendorong setiap individu untuk betperilaku. Motivasi muncul karena adanya daya tarik tertentu, misalnya, nilai merupakan sesuatu yang dapat menjadi daya tarik seseorang (motivator). Akan tetapi, untuk mendapatkan nilai yang baik itu misalnya belajar dengan giat, melaksanakan setiap tugas, merupakan hal yang tidak menarik. Oleh sebab itu, sering untuk mengejar daya tarik itu seseorang melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan, seperti mencontek, menjiplak tugas, dan sebagainya. Untuk menghindari hal tersebut diperlukan pengawasan yang memadai. Itulah sebabnya selain diperlukan faktor pendorong melalui hadiah, juga diperlukan hukuman terutama apabila terjadi gejala-gejala perilaku yang tidak sesuai. Disamping itu, motivasi juga bisa muncul karena pengalaman yang menyenangkan.
C. KONSTRUKTIVISME
Aliran konstruktivistik dikembangkan oleh Piaget pada pertengahan abad 20. Piaget merupakan salah seorang tokoh yang disebut-sebut sebagai pelopor aliran konstruktivisme. Piaget berpendapat bahwa pada dasarnya setiap individu sejak kecil sudah memiliki kemampuan untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Pengetahuan yang dikonstruksi oleh anak sebagai subjek , maka akan menjadi pengetahuan yang bermakna, sedangkan pengetahuan yang hanya diperoleh melalui proses pemberitahuan tidak akan menjadi pengetahuan yang bermakna. Menurut teori ini, Pendidik adalah orang yang mengajar, memberi teladan dan membiasakan anak didik untuk menjadi manusia mandiri. Menurut Piaget, anak adalah pembelajar yang pada dirinya sudah memiliki motivasi untuk mengetahui dan akan memahami sendiri konsekuensi dari tindakan-tindakannya Di dalam konstruktivisme ilmu adalah sesuatu yang relatif dan berubah mengikuti perkembangan zaman dan proses pembelajaran bertindak sebagai fungsi penyesuaian.
Salah satu sumbangan Piaget tentang proses rekonstruksi pengetahuan individu yaitu asimilasi dan akomodasi. James Atherton (2005) menyebutkan bahwa asisimilasi adalah “the process by which a person takes material into their mind from the environment, which may mean changing the evidence of their senses to make it fit” dan akomodasi adalah “the difference made to one’s mind or concepts by the process of assimilation”. Jadi,Mengkonstruksi pengetahuan menurut Piaget tersebut dilakukan melalui proses asimilasi dan akomodasi terhadap skema yang sudah ada. Skema adalah struktur kognitif yang terbentuk melalui proses pengalaman. Asimilasi adalah proses penyempurnaan skema yang telah terbentuk, dan akomodasi adalah proses perubahan skema. Dikemukakannya pula, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pengarahan dan bimbingan dari guru atau pendidik. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan. Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah :
a. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.
b. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.
c. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
d. Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.
e. Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.
Strategi pokok dari model belajar mengajar konstruktivisme adalah meaningful learning, yang mengajak peserta didik berpikir dan memahami materi pelajaran, bukan sekadar mendengar, menerima, dan mengingat. Setiap unsur materi pelajaran harus diolah dan diinterpretasikan sedemikian rupa sehingga masuk akal. Sesuatu yang tidak masuk akal, tidak akan menempel lama dalam pikiran. Strategi ini menghendaki baik siswa maupun guru memiliki kedudukan sebagai subjek belajar. Sebagai subjek belajar, keduanya dituntut aktif untuk mencari data, informasi dan interpretasi dari materi pelajaran. Siswa dituntut bersikap kritisisme terhadap materi pelajaran, bukan sekadar meniru, copy paste dan menghafal yang diberikan guru.
Hakikat Realitas dan Kebenaran Menurut Teori Konstruktivisme
Bagi kaum konstruktivis, pengetahuan bukanlah kenyataan ontologis. Malah secara ekstrem mereka menyatakan bahwa kita tidak dapat mengerti realitas (kenyataan) yang sesungguhnya. Yang kita mengerti, bila boleh disebut suatu realitas, adalah sktruktur konstruksi kita akan suatu objek. Bettencourt menyatakan memang konstruktivisme tidak bertujuan mengerti realitas, tetapi lebih mau menekankan bagaimana kita tahu atau menjadi tahu. Bagi konstruktivisme, realitas hanya ada sejauh berhubungan dengan pengamat.
Konstruktivisme meletakkan kebenaran dari pengetahuan dalam viabilitasnya, yaitu berlakunya konsep atau pengetahuan itu dalam penggunaan. Apakah pengetahuan itu dapat digunakan dalam menghadapi macam-macam persoalan yang berkaitan. Semakin dalam dan luas suatu pengetahuan dapat digunakan, semakin luas kebenarannya. Dalam kaitan ini maka pengetahuan ada tarafnya, mulai dari yang berlaku secara terbatas sampai yang Lebih umum
Macam Konstruktivisme
Von Glaserfeld membedakan tiga level konstruktivisme dalam kaitan
hubungan pengetahuan dan kenyataan, yakni konstruktivisme radikal, realisme, hipotesis, dan konstruktivisme yang biasa. Konstruktivisme radikal mengesampingkan hubungan antara pengetahuan dan kenyataan sebagai kriteria kebenaran. Bagi kaum radikal, pengetahuan adalah suatu pengaturan atau organisasi dari suatu obyek
yang dibentuk oleh seseorang. Menurut aliran ini kita hanya tahu apa
yang dikonstruksi oleh pikiran kita. Pengetahuan bukanlah representasi
kenyataan. Realisme hipotesis memandang pengetahuan sebagai suatu hipotesis dari suatu struktur kenyataan dan sedang berkembang menuju pengetahuan yang sejati yang dekat dengan realitas. Sedangkan konstruktivisme yang biasa, masih melihat pengetahuan sebagai suatu gambaran yang dibentuk dari kenyataan suatu objek.
Dari segi subyek yang membetuk pengetahuan, dapat dibedakan antara
konstruktivisme psikologis, personal, sosiokulturalisme, dan konstruktivisme sosiologis. Yang personal dengan tokohnya Piaget, menekankan bahwa pengetahuan itu dibentuk oleh seseorang secara pribadi dalam berinteraksi dengan pengalaman dan objek yang dihadapinya. Orang itu sendiri yang membentuk pengetahuan.Sosiokulturalisme yang ditokohi oleh Vygotsky, menjelaskan bahwa pengetahuan dibentuk baik secara pribadi tetapi juga oleh interaksi sosial dan kultural dengan orang-orang yang lebih tahu tentang hal itu dan lingkungan yang mendukung. Dengan dimasukkannya seseorang dalam suatu masyarakat ilmiah dan kultur yang sudah punya gagasan tertentu, maka orang itu membentuk pengetahuannya. Sedangkan konstruktivisme sosiologis menyatakan bahwa pengetahuan itu dibentuk oleh masyarakat sosial. Unsur masyarakatlah yang penting, sedang unsur pribadi tidak
diperhatikan. 
Pandangan Konstruktivistik Tentang Belajar
1. Konstruktivistik memandang bahwa pengetahuan adalah non obtektif, bersifat temporer, selalu berubah-ubah tidak menentu.
2. Belajar adalah menyusun pengetahuan dari pengalaman kongkret, aktivitas kolaborasi, dan refleksi serta interprestasi. Sedangkan mengajar menata lingkungan agar anak didik termotivasi dalam menggali dan menghargai ketidakmenentuan.
3. Anak didik akan memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergantung pada pengalamannya dan perspektif yang dipakai dalam mengintrospeksikannya.
Pandangan Konstruktivistik Tentang Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran ditentukan pada bagaimana belajar.

Pandangan Konstruktivistik Tentang Strategi Pembelajaran
1. Penyajian isi menekankan pada penggunaan pengetahuan secara bermakna mengikuti urutan dari keseluruhan ke bagian.
2. Pembelajaran lebih banyak diarahkan untuk meladeni atau melayani pertanyaan dan pandangan si belajar
3. Aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada data primer dan bahan manipulatif dengan penekanan pada keterampilan berpikir kritis
4. Pembelajaran menekankan pada proses
Pandangan Konstruktifistik Tentang Evaluasi
1. Evaluasi menekankan pada penyusunan makna secara aktif yang melibatkan keterampilan terintegrasi, dengan menggunakan masalah dalam konteks nyata.
2. Evaluasi yang menggali berpikis secara divergen, pemecahan ganda, bukan hanya jawaban benar
3. Evaluasi merupakan bagian utuh dari belajar dengan cara memberikan tugas-tugas yang menuntut aktivitas belajar bermakna serta menerapkan apa yang dipelajari dalam konteks nyata. Evaluasi akan menekankan pada keterampilan dan proses dalam kelompok.











Daftar Bacaan
Dahar, Ratna Wilis. 1996. Teori-Teori Belajar. Jakarta: Erlangga.
Sanjaya, Wina. 2007. Stategi pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
http://tamansiswa.org/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=23
http://blog.persimpangan.com/blog/2007/09/21/construktivisme-teori-konstruktivisme/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar