mivo.tv

Script by: http://www.newoes.com - Rofingi.com

Senin, 26 Desember 2011

krisis identitas pada remaja


  1. Krisis identitas
1.      Pengertian identitas
Definisi identitas menurut para ahli :
a.   Menurut Adams dan Gullota (1983)
Identity is a complex psychologycal phenomenon it might be thought of as the person in personality. It includes our own interpretation of early childhood identification with important individual in our lives.It includes a sense of direction, commitment, and trust in a personal ideal. A sense of identity integrates sex-role identfication, individual ideology, accepted group norms and standards, and much more.
b. Menurut Erikson (teori psikososial)
“ Selama  masa-masa sulit yang dialami remaja, ternyata ia berusaha merumuskan dan mengambangkan nilai kesetiaan (komitmen), yaitu kemampuan untuk mempertahankan loyalitas yang diikrarkan dengan bebas meskipun terdapat kontradiksi-kontradiksi yang terelakkan diantara sistem-sistem nilai.

                        Jadi, krisis identitas adalah suatu masa dimana seorang individu yang berada pada tahap perkembangan remaja. Ketika itu, remaja memiliki sikap untuk mencari identitas dirinya. Siapa dirinya saat sekarang dan di masa depan.

2.      Pembentukan Identitas
            Proses pencarian identitas adalah proses dimana seorang remaja mengembangan suatu identitas personal atau sense of self yang unik yang berbeda dari orang lain (individuation).
            Dalam psikologi perkembangan pembentukan identitas merupakan tugas utama dalam perkembangan kepribadian yang diharapkan tercapai pada akhir masa remaja. Pembentukan identitas sebenarnya sudah dimulai dari masa anak-anak, tetapi pada masa remaja ia menerima dimensi-dimensi baru karena berhadapan dengan perubahan-perubahan fisik, kognitif, dan relasional (Grotevant dan Cooper, 1998)
            Pada masa remaja mereka para remaja mulai menyadari tentang kepastian identitas dirinya sehingga  pada remaja awal mereka mulai melakukan eksplorasi terhadap kepribadian dirinya. Pencarian identitas pada masa remaja menjadi lebih kuat sehingga ia berusaha untuk mencari identitas dan mendefinisikan kembali siapakah ia saat ini dan akan menjadi siapakah ia di masa depan. Perkembangan identitas selama masa remaja ini dianggap sangat penting karena identitas tersebut dapat memberikan suatu dasar unuk perkembangan psikososial dan relasi interpersoanal pada masa dewasa (Jones dan Hartmann, 1988).

Tahapan Perkembangan Identitas
Tahap
Usia
Karakteristik
Diferentiation






Practice






Rapprochment













Consolidation
12-14






14-15






15-18













18-21
Remaja menyadari bahwa ia berbeda secara sikologis dari orang tuanya. Kesadaran ini sering membuatnya mempertanyakan dan menolak nilai-nilai dan nasihat-nasihat orang tuanya, sekalipun nilai-nilai dan nasihat tersebut masuk akal.

Remaja percaya bahwa ia mengetahui segala-galanya dan dapat melakukan sesuatu tanpa salah. Ia menyangkal kebutuhan akan peringatan atau nasihat dan menantang orang tuanya pada setiap kesempatan. Komitmennya terhadap teman-teman juga bertambah.

Karena kesedihan dan kekhawatiran yang dialaminya, telah mendorong remaja untuk menerima kembali sebagian otoritas orang tuanya, tetapi dengan bersyarat. Tingkah lakunya sering silih berganti antara eksperimentasi dan penyesuaian, kadang mereka menantang dan kadang berdamai dan bekerjasama dengan orang tua mereka. Di satu sisi ia menerima tanggung jawab di sekitar rumah, namun di sisi lain ia akan mendongkol ketika orang tuanya selalu mengontrol membatasi gerak-gerik dan akitvitasnya diluar rumah.

Remaja mengembangkan kesadaran akan identitas personal, yang menjadi dasar bagi pemahaman dirinya dan diri orang lain, serta untuk mempertahankan perasaan otonomi, independen dan individualitas.
Dalam teori psikososial (Erikson) ada beberapa tahap yang harus ditempuh untuk memenuhi tugas-tugas perkembangannya. Akan dipaparkan sebagai berikut :
Tahap psikososial
Perkiraan usia
Kepercayaan vs ketidakpercayaan
(trust vs mistrust)

Otonomi vs rasa malu dan ragu
(autonomy vs same and doubt)

Inisiatif vs rasa bersalah
(Intiative vs guilt)

Ketekunan vs rasa rendah diri
(industry vs inferiority)

Identitas vs kebingungan peran
(ego identity vs role-confution)

keintiman vs isolasi
(intimacy vs isolation)

generatifitas vs stagnasi
(generativity vs stagnation)

integritas ego vs keputuasan
(ego integrity vs despair)
Lahir- 1 tahun (masa bayi)


1-3 tahun (masa kanak-kanak)


4-5 tahun (masa prasekolah)


6-11 tahun (masa sekolah dasar)
12-20 tahun (masa remaja)


20-24 tahun (masa awal dewasa)


25-65 tahun (masa pertengahan dewasa)

65-mati (masa akhir dewasa)

Dalam teori psikososial terdapat salah satu tahapan yang akan dialami oleh semua individu yaitu identitas vs kebingungan peran (ego identity vs role-confution) dan berlangsung sekitar 12-20 tahun dimana pada masa itu sedang berlangsung masa remaja yang berarti mereka sedang mencari identitas dirinya, yang kelak akan menjadi identitas dirinya dimasa itu dan masa yang akan datang.
Berdasarkan paparan di atas, dapat dikemukakan bahwa remaja dapat dipandang telah memiliki identitas yang matang (sehat), apabila sudah memiliki pemahaman dan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri, peran-perannya dalam kehidupan sosial (di lingkungan keluarga, sekolah, atau masyarakat), dunia kerja, dan nilai-nilai agama.

Perkembangan identitas dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :
  1. Iklim keluarga
Keluarga merupakan awal pembentukan identitas seorang individu, terutama orangtua. Artinya gaya pengasuhan dari orangtua merupakan dasar pembentukan identitas individu. Beberapa dibawah ini contoh gaya pengasuhan orangtua, seperti :

a.       Pengasuhan demokratis
Gaya pengasuhan ini mendorong remaja untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan keluarga akan mempercepat “pencapaian identitas”.
b.      Pengasuhan otokratis
Mengendalikan perilaku remaja tanpa memberi remaja suatu peluang unutk mengemukakan pendapat akan “menghambat pencapaian identitas”.
c.       Pengasuhan permisif
Memberi bimbingan terbatas kepada remaja dan mengizinkan mereka mengambil keputusan-keputusan sendiri akan meningkatkan “kebingungan identitas”.
  1. tokoh idola
  2. peluang pengembangan diri

Dalam upaya membantu remaja atau siswa (SLTP/SLTA) menemukan identitas dirinya, WOOLFOLK (1995 : 73) menyarankan sebagai berikut :
  1. berilah para siswa informasi tentang pilihan-pilihan karier dan peran-peran orang dewasa.
  2. membantu siswa untuk menemukan sumber-sumber untuk memecahkan masalah pribadinya.
  3. bersikap toleran terhadap tingkah laku remaja yang dipandang aneh, seperti dalam berpakaian.
  4. memberi umpan balik yang realistik terhadap siswa tentang dirinya.

  1. Ciri-ciri Kepribadian Remaja
            Ketika remaja tersebut sudah memperoleh identitas dirinya maka ia akan menyadari ciri-ciri kepribadian dirinya, diantaranya :
a.   Kesukaan atau ketidaksukaan
b.  Aspirasi
c.   Tujuan masa depan yang diantisipasi
d.  Perasaan bahwa ia dapat dan harus mengatur orientasi hidupnya

B.                        Juvenile Deliquency
  1. Pengertian Juvenile Deliquency
a.       Berdasarkan etismologi (bahasa)
Juvenile Deliquency berasal dari dua kata yaitu javenile = remaja, deliquency = Pelanggaran, penyimpangan,atau kenakalan. Sehingga juvenile deliquency dapat diartikan sebagai “Tingkah Laku yang melawan hukum yang dilakukan oleh seseorang yang berusia remaja (di bawah 17 tahun).”
b.      Menurut Fuad Hasan (B.Simanjuntak,1975:71)
Beliau mengartikannya sebagai “Perbuatan anti sosial yang dilakukan oleh anak remaja yang bilamana dilakukan oleh orang dewasa diklasifikasikan sebagai tindakan kejahatan “.
c.       Sehingga dapat disimpulkan bahwa juvenile deliquency yaitu kenakalan remaja menurut bahasa, dimana perilaku remaja tersebut tidak sesuai dengan norma agama, adat istiadat dari lingkungan tersebut, dan hukum-hukum yang berlaku di lingkungan tersebut.

  1. Macam-macam kenakalan remaja
Kenakalan remaja identik dengan perbuatan yang merugikan entah itu untuk diri sendiri maupun orang lain. Selain itu kenakalan remaja juga sering diartikan sebagai pelanggaran. Sehingga kenakalan remaja tersebut sangat dekat pengertiannya dengan kriminalitas. Untuk tujuan-tujuan hukum, maka dibuatlah suatu perbedaan antara pelanggaran-pelanggaran indeks (index offenses) dengan status (status offenses). Index offenses adalah tindakan kriminal, baik yang dilakukan oleh remaja maupun orang dewasa. Contoh tindakannya seperti perampokan, penyerangan dengan kekerasan, pemerkosaan, dan pembunuhan. Status offenses adalah Tindakan yang tidak terlalu serius, tindakan seperti ini banyak dilakukan oleh anak-anak muda dibawah usia tertentu sehingga pelanggaran tersebut dikatakn sebagai pelanggaran remaja. Contohnya seperti lari dari rumah (kabur), bolos drao sekolah, meminum-minuman keras, pelacuran dan ketidak mampuan mengendalikan diri.
            Dibawah ini adalah  beberapa macam kenakalan remaja, seperti :
  1. Kehamilan pada remaja
Di Indonesia hal ini sudah mulai merajalela, dibuktikan dengan banyaknya kasus pembuangan bayi yang sebagian besar alasannya adalah karena kehamilan yang tidak diinginkan dan para pelakunya adalah sebagian besar adalah para remaja yang belum siap secara mental untuk menghadapi respon lingkungannya akibat dari apa yang dia perbuat, namun nilai-nilai agama masih sangat melekat erat di Indonesia. Berbeda dengan Amerika yang memiliki angka kehamilan remaja terbesar pertama di bandingkan dengan negara-negara barat. Faktanya yaitu setiap tahun lebih dari satu juta remaja Amerika hamil, 4 dari 5 orang diantaranya tidak menikah (Santrock:).
  1. Bunuh diri
Di Amerika hal ini sudah sering atatu biasa terjadi. Setiap tahun, sekitar 25.000 orang menghilangkan nyawa mereka sendiri. Pada saat memasuki usia 15 tahun, kemungkinan untu mengambil keputusan untuk bunh diri mulai bertambah. Dan ternyata kematian akibat bunuh diri dikalangan remaja merupakan 12% penyebab kematian pada kelompok usia remaja dan dewasa muda (Brent, 1989). Fakta paling mengejutkan yaitu ternyata besar hasrat untuk mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri pada laki-laki tiga kali lebih besar dibandingkan dengan perempuan. Tetapi pada faktanya perempuan lebih sering melakukan percobaan bunuh diri dibandingkan dnegan laki-laki.
  1. Gangguan-gangguan makan
Memasuki masa remaja, terutama remaja perempuan mulai menyadari pentingnya kesempurnaan fisik. Banyak remaja perempuan yang melakukan berbagai cara agar terlihat menarik di depan umum. Tetapi akibat yang ditimbulkan dari usaha-usaha tersebut juga tidak hanya hal-hal yang positifnya saja bahaya dari usaha tersebut juga bisa terjadi jika tanpa pengetahuan yang luas mengenai usaha “mempercantik diri tersebut.
            Dibawah ini contoh bahaya yang akan ditimbulkan, yaitu :
c.1. Anoreksia Nervosa
                        Gangguan makan yang meliputi upaya yang keras untuk kurus melalui cara melaparkan diri. Anoreksia banyak diidap oleh perempuan dan hanya lima persen saja penederita anoreksia laki-laki. Penderita anoreksia memenag menghindari makan namun mereka sangat menyukai jika memasak untuk orang lain, membicarakan soal makanan, dan mereka berkeras untuk hanya melihat orang lain makan.
                        Penyebabnya terjadinya anoreksia (Brooks-Gunn, 1993;Hepworth, 1994; Striegel-Moore,dkk,1993), yaitu:
a.       Sosial         → yang paling sering menjadi alasan adalah tren tubuh yamg kurus yang sangat disukai saat ini.
b.      Psikologis  → motivasi untuk menarik perhatian, keinginan akan individualitas, penolakan seksualitas, dan cara mengatasi kekangan orang tua (Ketika orang tua menuntut prestasi yang baik dari anaknya dan anaknya tidak mampu memenuhi tuntutan tersebut, sehingga dia merasa tidak memiliki kendali diri. Dengan mengurangi asupan makanan dia akan merasa memiliki kendali diri).
c.       Fisiologis   → berpusat pada hipotalamus, yang menjadi hal yang tidak normal (abnormal) ketika seseorang menderita anoreksia.
“Namun penyebab anoreksia belum diketahui secara pasti.”
c.2. Bulimia
            Gangguan makan yang meliputi makan dan minum berlebihan dan memuntahkannya kembali secara teratur. Memuntahkan dengan cara meminum obat pencahar atau pencucui perut.
            Faktor penyebab bulimia hampir sama dengan anoreksia nervosa. Penderita bulimia tidak dapat mengendalikan perilaku makan mereka berebda dengan penderita anoreksia yang masih bisa mengendalikan perilaku makannya.

  1. Faktor-faktor penyebab munculnya juvenile Deliquency

     Menurut Donald Taft (B.Simanjuntak,1975:177-178) faktor –faktor yang menyebabkan juvenile delinquency itu adalah subjective approach dan objective approach.Rincian dari masing-masing faktor tersebut adalah:

FAKTOR
ASPEK
KETERANGAN
A.Subjective Approach
1.      The Antropological Approach







2.      The Medical Approach


3.      The Biological App



4.      The Physiological App





5.      The Pshysicological App




6.      The Psychiatric App


7.      The Psychoanalytical App
Pendekatan ini membandingkan ciri tubuh seorang penjahat dengan bukan penjahat.Hasil penelitian menunjukan bahwa seseorang berbuat jahat karena memang telah dibawa sejak lahir.

Pendekatan ini berpendapat bahwa ada relasi antara penyakit dengan kejahatan.
Pendekaatan ini mencoba menghubungkan kesarisan dengan kejahatan.

Pendekatan ini berpendapat bahwa ketidakberfungsian hormon atau kelenjar dapat menimbulkan kejahatan.

Ketegangan Psikologis (seperti tidak terpenuhinya kebutuhan atau keinginan dapat mendorong seseorang berbuat jahat).

Gangguan atau penyakit jiwa mendorong seseorang berbuat jahat

Keinginan yang ditekan karena bertentangan dengan norma akan mencari penyelesaiannya dengan berbuat jahat
B.Objective Approach
1.      The Geographical App





2.      The Ecological App





3.      The Economical App




4.      The Social and Cultural App

Pendekatan ini berpendapat bahwa ada hubungan antara faktor geografis (lokasi tempat tinggal atau iklim cuaca)dengan kejahatan

Pendekatan ini berpendapat bahwa ada hubungan antara kepadatan penduduk, tipe-tipe keadaan sosial dengan kejahatan

Pendekatan ini
berpendapat bahwa ada hubungan antara kondisi ekonomi dengan
kejahatan

Pendekatan ini berpendapat bahwa ada hubungan  keadaan lingkungan,mobilitas sosial atau perkembangan masyarakat dan kebudayaan dengan kejahatan





Selain hal-hal diatas, beberapa hal dibawah ini juga memfaktori munculnya juvenile Deliquency :

Perilaku yang mendahului
Kaitan dengan kenakalan
Deskripsi
Identitas


Pengendalian diri





Usia








Jenis kelamin







Harapan-harapan dalam pendidikan dan nilai rapor sekolah.




Pengaruh-pengaruh orang tua.






Pengaruh-pengaruh teman sebaya.


Satus sosioekonomi



Kualitas lingkungan
Identitas negatif


Rendahnya derajat pengendalian diri




Awal mula








Laki-laki







Rendahnya harapan-harapan dan nilai rapor sekolah.




Pemantauan (rendah), dukungan (rendah), disiplin (tidak efektif).





Pengaruhnya kuat, penolakan lemah.


Rendah



Perkotaan, tingginya kriminalitas, tingginya mobilitas.
Erikson yakin kenakalan terjadi karena remaja gagal mengatasi identitas peran.
Beberapa anak dan remaja gagalmemperoleh pengendalian yang esensial yang umumnya dicapai orang lain selama proses pertumbuhan.
Penampakan awal perilaku anti sosial berkaitan denganpelanggarn-pelanggarn serius dikemudian hari pada masa remaja. Akan tetapi tidak semua anak yang bertindak berlebihan menjadi anak nakal.
Anak laki-laki lebih banyak terlibat dalam perilaku antisosial daripada anak perempuan lebih cenderung melaRikan diri dari rumah. Anak laki-laki lebih banyak terlibat dalam tindakan-tindakan kejahatan.
Remaja yang yang menjadi nakal seringkali memiliki harapan-harapan pendidikan yang rendah dan nilai rapor yang rendah. Kemampuan-kemampuan verbal mereka seringkali lemah.
 Remaja yang nakal seringkali berasal dari keluarga-keluarga dimana orang tua jarang memantau anak-anak mereka,memberi sedikit dukungan, dan mendisiplinkan mereka secar tidak efektif.
 Bergaul dengan teman-teman
Teman-teman sebaya yang nakal menambah besar resiko menjadi nakal.
Pelangaran-pelanggaran yang serius lebih sering dilakukan oleh kaum laki-laki kelas rendah.
Masyarakat seringkali membiakkan kejahatan. Tinggal disuatu daerah yang tingkat kejahatananya tinggi, yang juga dicirikan oleh kondisi-kondisi kemiskinan dan kehidupan yang padat, menambah kemungkinan bahwa seorang anak akan menjadi nakal. Masyarakat ini sering kali memiliki sekolah-sekolah yang sangat tidak memadai.

Penyimpangan perilaku remaja ini contohnya,seperti : mencuri,bolos dari sekolah,free sex, vandalisme/perusakan, serangan yang agresif yang mengarah pada kematian, mengkonsumsi minuman keras atau obat-obat terlarang,berpakaian tidak sesnonoh,dan tawuran (kekerasan berkelompok atau genk).
     Stephens (1973) melaporkan remaja yang berperilaku menyimpang sekitar 3 % dari seluruh remaja  di Amerika yang berusia antara 10-17 tahun. Pada awalnya Juvenile delinquency ini didominasi oleh remaja pria,tetapi mulai tahun 1971,kasus remaja perempuan pun meningkat 11 %,sementara kasus remaja pria meningkat 6%.
     Faktor yang mempengaruhi Juvenile Deliqency menuntut sebagian ahli (para biologis) adalah hereditas atau faktor keturunan,namun pendapat inidibantah oleh ahli lain,seperti Ashley Montague (B.Simanjutak,1975:99) yang berpendapat bahwa “tak ada bukti bahwa seseorang diwarisi tingkah laku jahat.Kejahatan adalah kondisi sosial,bukan kondisi biologis”.

  1. Pencegahan dan penanganan
Banyak upaya yang dapat di lakukan dalam mengatasi masalah kenakalan remaja. Dibawah ini akan di paparkan beberapa cara untuk mengatasi kenakalan remaja, yaitu :
a.       Program harus lebih luas cakupannya daripada hanya sekedar berfokus pada kenakalan. Misalnya, pada dasarnya mustahil meningkatkan pencegahan kenakalan tanpa mempertimbangkan kualitas pendidikan yang ada bagi anak-anak muda yang berisiko tinggi. Satu program yang berhasil, yang dirancang untuk menekan kenakalan remaja terdapat dalam dunia sosiokultural.
b.      Program harus meiliki komponen-komponen ganda, karena tidak ada satu pun komponen yang berdiri sendiri sebagai “peluru ajaib” yang dapat memerangi kenakalan.
c.       Program-program harus sudah dimulai sejak awal masa perkembangan anak untuk mencegah masalah belajar dan masalah perilaku.
d.      Sekolah memainkan peran penting. Sekolah yang memiliki kepemimpinan yang kuat, kebijakan disiplin yang adil, partisipasi murid dalam pengambilan keputusan, dan investasi besar terhadap hasil-hasil sekolah oleh murid-murid dan staf memiliki peluang yang lebih baik dalm menekan kenakalan.
e.       Upaya-upaya harus diarahkan pada perubahan institusional daripada perubahan individual. Yang menjadi titik berat ialah meningkatkan kualitas pendidikan bagi anak-anak yang kurang beruntung.
f.       Walaupun  butir e benar adanya, namun para peneliti menemukan bahwa memberi perhatian kepada masing-masing individu secara intensif dan merancang program secara unik bagi tiap anak merupakan faktor yang penting dalam menangani anak-anak yang berisiko tinggi untuk menjadi nakal.
g.      Manfaat yang didapatkan dari suatu program seringkali hilang saat program tersebut dihentikan. Oleh karenanya, perlu dikembangkan program yang sifatnya berkesinambungan.








DAFTAR PUSTAKA

Santrock, John W. 1995. Life-Span Development perkembangan Masa Hidup : Erllangga
B. Hurlock, Elizabeth. 1980. Psikologi Perkembangan : Erlangga
Desmita. 2005. Psikologi Perkembangan : Rosda
Yusuf LN, Syamsu. 2009. Mental Hygiene terapi psikospiritual untuk hidup sehat berkualitas : Maestro

Tidak ada komentar:

Posting Komentar